
Play/Download
Dari bagian 1
Tante Yola pun menjelaskan. Ternyata seperti permainan lucky draw. Dalam
satu Pak kartu itu ada 2 joker. Joker hitam putih berarti kartu
"truth", dan joker berwarna berarti kartu "dare". Kartu-kartu itu
dibagikan ke semua pemain dengan jumlah tertentu. Jika ada pemain yang
mendapatkan kartu "truth", maka dia harus menceritakan salah satu
pengalaman seksnya dengan detil. Dan jika si pemain mendapat kartu
"dare", maka dia harus bersedia melepas salah satu atribut yang melekat
di tubuhnya, bisa pakaian atau aksesoris. Itu permainan truth or dare
versi Tante Yola. Aku tidak tau apakah sama dengan permainan truth or
dare pada umumnya.
Permainan pun dimulai. Kami berenam duduk membentuk lingkaran. Kelima
wanita itu ditemani botol-botol minumannya, hanya aku saja yang ditemani
segelas orange juice. Tante Yola yang pertama kali mengocok kartu
membagikan kepada kami. Aku melihat kartu-kartu yang dibagikan kepadaku.
Jantungku semakin berdebar. Kami semua mengangkat kartu dan
memeriksanya. Semuanya senyum-senyum sendiri.
"Oke, buka!" seru Tante Yola.
Kami pun langsung meletakkan kartu di atas lantai dalam keadaan terbuka.
Tante Yola memeriksa kartu-kartu kami. Ternyata tidak ada satupun yang
mendapat kartu "truth", atau kartu "dare". Permainan diulang lagi. Kartu
dikocok dan dibagikan.
"Oh.. shit..!" tiba-tiba Tante Shinta berteriak. Kami pun mulai tertawa-tawa.
"Oke buka!" seru Tante Yola lagi.
Dan betul, Tante Shinta kebagian mendapat kartu "dare". Artinya wanita
itu harus melepas salah satu atribut yang melekat di tubuhnya. Dan
karena satu-satunya pakaian luar yang dikenakan adalah gaun terusan, aku
pikir wanita itu akan melepas gaunnya atau perhiasan yang melingkari
bagian-bagian tubuhnya. Namun dalam keadaan mabuk rasanya mustahil kalau
Tante Shinta hanya berani melepas perhiasannya.
Dugaanku meleset! Tante Shinta tidak melepas gaun terusannya, dan tidak
juga perhiasannya. Lebih gila dari yang kuduga, wanita itu langsung
melepas celana dalamnya yang dapat dicopotnya dengan mudah dari bawah
terusannya.
"Woowww..", keempat wanita yang lain bersorak dan bertepuk tangan.
Aku pun ikut bertepuk tangan. Permainan pun berlanjut. Karena memegang
kartu "dare", otomatis Tante Shinta juga yang mengocok kartunya. Putaran
kedua, Tante Yola mendapat kartu "truth", dan Tante Irene mendapat
kartu "dare". Tante Yola pun bercerita tentang perselingkuhannya dengan
salah seorang eksekutif muda yang dikenalnya di kafe. Ternyata Tante
Yola pandai sekali bercerita dengan detil. Kami sampai horny
mendengarnya. Setelah selesai bercerita, giliran Tante Irene yang harus
melepas atributnya. Wanita itu melepas stocking semi transparan yang
sejak tadi membungkus kakinya. Gila, ternyata kakinya lebih putih dari
yang kulihat. Aku tak menyangka kalau tadi Tante Irene mengenakan
stocking, karena kulihat paha Tante Irene sudah putih.
Putaran berikut hanya keluar kartu "truth". Tante Rissa yang mendapat
kartu tersebut malah bercerita saat berselingkuh dengan aku. Lucu
sekali, keempat sahabatnya mendengar cerita Tante Rissa sambil sesekali
senyum-senyum dan melirik ke arahku. Berikutnya aku mendapat kartu
"dare", dan Tante Shinta mendapat kartu "truth". Tante Shinta pun
bercerita tentang pengalaman selingkuhnya dengan kakak iparnya yang
masih keturunan Pakistan asli. Selesai tante Shinta bercerita, aku pun
tanpa beban melepas kemeja yang melekat di tubuhku diiringi sorakan
kelima wanita itu. Selanjutnya Tante Yola mendapat kartu "dare". Wanita
itu melepas celana suteranya hingga terlihat kakinya yang hitam legam,
namun mulus.
Permainan bergulir terus. Satu persatu pakaian-pakaian yang melekat di
tubuh kami mulai terlepas. Dan aku heran kenapa tak satupun dari mereka
yang melepas perhiasannya. Mereka lebih rela melepas pakaiannya
ketimbang mencopot gelang emasnya.
Tante Lisbeth yang lebih dulu tampil tanpa sehelai benang pun. Birahiku
semakin naik ketika menyaksikan wanita bertubuh putih mulus itu melepas
celana dalamnya yang menjadi pembungkus tubuhnya yang terakhir. Gila,
betul-betul mulus. Meskipun terlihat sedikit lemak di beberapa bagian
namun secara keseluruhan betul-betul membuat gairahku naik.
Orang kedua yang "terpaksa", tampil bugil adalah Tante Shinta. Wanita
ini sedikit aneh karena sejak awal malah melepas pakaian dalamnya lebih
dulu. Sehingga begitu wanita ini melepas gaun terusannya, tubuh mulusnya
langsung terlihat jelas. Dan aku terkejut sekali melihat sesuatu yang
berkilat di tengah-tengah kemaluannya yang hanya berbulu sedikit itu.
Ooppss.. ternyata Tante Shinta memasang anting di bibir kemaluannya.
Berikutnya yang jadi korban adalah Tante Yola. Baru kali ini aku melihat
wanita berkulit hitam legam dalam keadaan telanjang bulat di depan
mataku. Ternyata sexy juga. Apalagi tubuh Tante Yola sangat mulus dan
terawat.
Permainan selesai ketika Tante Shinta tidak memiliki apa-apa lagi untuk
dilepas. Aksesoris yang melekat di tubuh bugilnya satu persatu pun
lepas. Permainan pun selesai.
"Asyiikk.. aku yang menang..", seru Tante Rissa kegirangan.
Di akhir permainan hanya wanita itu yang masih berpakaian cukup
"lengkap". Bra, celana dalam dan stocking hitam masih melekat di
tubuhnya yang putih mulus. Aku sendiri hanya menyisakan selembar celana
dalam. Tante Irene juga hanya bercelana dalam saja, sementara
payudaranya yang masih bulat dan montok itu terayun-ayun sejak tadi.
"Uuuhh.. dasar, curang ah.. curang..", seru Tante Shinta sambil merajuk.
"Iya nih nggak adil, ayo buka semuanya..", timpal Tante Lisbeth.
Tiba-tiba ketiga wanita yang sudah bugil itu menghampiri Tante Rissa.
"Ehh.. ehh.. apa-apaan nih, curang ah..", seru Tante Rissa. Wanita itu
kelabakan ketika Tante Lisbeth, Tante Shinta dan Tante Yola mengepung
dan menelanjanginya. Aku dan Tante Irene tertawa menyaksikan pemandangan
itu. Tante Rissa sampai merangkak-rangkak menghindari Tante Lisbeth
yang bernafsu menangkapnya. Tante Yola yang mendekapnya dari belakang
dengan mudah melepas bra yang menutup payudara Tante Rissa. Sementara
Tante Shinta berusaha menarik celana dalam yang melingkari selangkangan
Tante Rissa.
Akhirnya wanita itu tak kuasa menahan "amukan", ketiga sahabatnya. Dalam
waktu singkat, kondisinya pun tak jauh beda dengan ketiga temannya yang
lebih dulu bugil. Aku dan Tante Irene sampai sakit perut karena tertawa
terpingkal-pingkal.
"Eit.. jangan seneng dulu, sekarang giliran kalian..", seruan Tante
Lisbeth tiba-tiba menghentikan tawaku dan Tante Irene. Kami berdua
saling berpandangan.
"Kabur..!" seruku.
Kemudian kami berdua pun berlari berpencar. Tante Irene masuk ke dalam
kamarnya dan aku lari ke ruang tamu. Tante Rissa dan Tante Yola mengejar
tante Irene ke dalam kamar, sedangkan Tante Lisbeth dan Tante Shinta
mengejarku ke ruang tamu.
Setelah berkali-kali muter-muter di meja tamu, akhirnya aku pasrah di
salah satu sudut sofa. Setengah meronta, aku merelakan Tante Shinta
meloroti celana dalamku, sementara Tante Lisbeth memegangin kedua
tanganku. Aku pun mendengara suara teriakan-teriakan yang seru dari
dalam kamar Tante Irene.
Tante Shinta dan Tante Lisbeth lantas menggeretku ke dalam kamar Tante
Irene. Di dalam aku melihat tubuh molek Tante Irene yang tergeletak
pasrah di atas ranjang dengan kedua tangannya dipegangi Tante Rissa dan
Tante Yola. Tante Shinta dan Tante Lisbeth lantas menghempaskan tubuhku
ke atas ranjang. Mereka tertawa-tawa.
"Nah kalo gini kan adil hihihihi..", seru Tante Lisbeth.
Aku tak ingat siapa yang memulai yang jelas detik berikutnya canda tawa itu berubah menjadi ajang pesta orgy di antara kami.
Tante Shinta memeluk tubuhku yang tergeletak di ranjang. Kemudian dengan
penuh nafsu wanita itu langsung melumat bibirku tanpa kompromi.
Sementara di bawah sana aku merasakan basahnya lidah Tante Lisbeth dan
Tante Irene yang asyik menjilati batang penisku yang sudah tegang sejak
tadi. Ugghh.. nikmat sekali.
Sambil berciuman, aku melirik Tante Rissa dan Tante Yola yang asyik
berduaan. Tante Rissa yang bersandar di ranjang membiarkan kemaluannya
dilumat Tante Yola. Aku melihat pemandangan itu dengan penuh nafsu.
Sementara Tante Shinta sudah asyik menjilati leher, telinga dan dadaku.
Nafsu yang semakin memuncak menuntunku untuk meraih tangan Tante Rissa
yang mulus itu. Aku jilati jemarinya yang lentik. Tante Rissa yang
mengetahui hal itu langsung membalikkan tubuhnya ke arahku dan kami pun
asyik berciuman.
"Mmmhh.. ssllpp.. mmhh.. nggak nyesel kan ikutan sama kita-kita hihihi.. mm..", seru Tante Rissa di sela-sela lumatan bibirnya.
Aku hanya bisa mengangguk. Kulihat Tante Yola masih asyik menjelajahi daerah sensitif Tante Rissa.
Tiba-tiba Tante Irene meninggalkan Tante Lisbeth yang sedang asyik
melumat penisku. Kulirik wanita itu keluar kamar. Tak lama kemudian
Tante Irene kembali dengan beberapa sex toy. Keempat wanita yang sedang
asyik orgy denganku tiba-tiba beralih perhatian kepada Tante Irene.
"Hei.. hei.. liat nih aku bawa apa..", seru Tante Irene.
Keempat sahabatnya menyambut dengan penuh nafsu.
"Aahh.. ini dia yang ditunggu-tunggu..", mereka bersorak ribut sekali.
Tante Irene langsung menghamparkan alat-alat itu di atas ranjang. Aku
melihat ada beberapa vibrator dengan berbagai bentuk, berikut dengan
cairan pelicinnya. Ada juga alat yang baru kali ini aku lihat. Seutas
tali yang panjangnya kira-kira setengah meter, dan di sepanjang tali itu
ada beberapa bola kecil dari bahan gel padat tersusun dengan jarak yang
sama. Ada yang bolanya sebesar kelereng, dan ada juga yang bolanya
sebesar bola golf. Di ujung tali ada kotak seukuran pemantik api dengan
beberapa tombol kecil. Aku sama sekali tidak mengerti apa gunanya.
Kelima wanita itu berebutan memilih alat yang mereka suka. Tante Rissa
mengambil sebuah vibrator dengan warna pink transparan. Panjangnya
kira-kira 20 centimeter. Lentur sekali sehingga bisa melenting ke segala
arah. Kemudian dengan gaya yang erotis dan dibuat-buat, Tante Rissa
mengambil sebotol cairan pelicin dan meneteskannya ke ujung vibrator
itu. Terlihat cairan itu menjalar ke beberapa bagian vibrator.
"Heii.. who wants to be the first..", serunya kepada keempat sahabatnya.
Tante Irene yang paling antusias.
"Aahh.. aku dulu dong..", seru Tante Irene.
Wanita itu lantas merebahkan tubuh mulusnya di atas ranjang dengan
posisi telentang, sementara kedua kakinya yang putih dibukanya
lebah-lebar. Sambil tersenyum Tante Rissa menghampiri vagina Tante Irene
yang hanya ditumbuhi sedikit bulu itu.
"Hmm.. vibratornya sih udah licin, tapi pasti lebih asyik kalo pake
pelicin yang alami.. mmhh.. ssllpp..", Tante Rissa langsung menjilati
vagina Tante Irene dengan buas.
Yang dijilat spontan terkejut. Tubuhnya mulai menggelinjang menahan rasa nikmat.
Tante Yola yang berada tak jauh dari Tante Irene mengambil sehelai bulu
angsa, kemudian digelitiknya tubuh Tante Irene dengan bulu itu. Tentu
saja Tante Irene semakin kelojotan.
"Ssshh.. aahh.. oohh kamu gila ya La.. sshh..", bibir sexynya tak henti-henti mengerang menahan nikmat.
Tante Yola yang melihat bibir Tante Irene terbuka langsung melumatnya
dengan bibirnya yang masih tersapu lipstik warna gelap itu. Uhh..
betul-betul pemandangan yang membuat urat nafsuku semakin naik.
Tiba-tiba Tante Shinta mengambil seutas tali yang diselingi
butiran-butiran yang kulihat tadi. Aku jadi penasaran, gimana sih
menggunakan alat yang ini. Tante Shinta kemudian mengangkat sebelah kaki
Tante Yola. Wanita berkulit hitam itu melirik sebentar dan tersenyum.
"Oowww.. not that toy again Shin..", serunya manja.
Tante Shinta tak peduli. Dibasahinya tali berbutir itu dengan cairan
pelicin, kemudian satu demi satu Tante Shinta memasukkan butiran-butiran
sebesar bola golf itu ke dalam vagina Tante Yola.
"Ughh..", desah Tante Yola setiap kali butiran itu dimasukkan ke dalam vaginanya.
Setelah seluruh butiran yang berbaris di tali itu masuk ke dalam vagina
Tante Yola, Tante Shinta mulai memainkan tombol-tombol yang ada di
ujungnya.
"Aaahh.. Shintaa.. sshh..", tiba-tiba Tante Yola menggelinjang cukup hebat.
Keempat sahabatnya cekikikan melihat reaksinya, termasuk Tante Irene
yang sedang dioral oleh Tante Rissa. Aku baru mengerti cara kerja alat
itu. Tante Shinta tampak asyik sekali ngejain Tante Yola. Aku pun mulai
tak tahan untuk ikut bergabung. Tante Shinta yang asyik ngerjain Tante
Yola tampaknya agak "lengah", dengan tubuhnya. Dengan birahi yang sudah
ke ubun-ubun, aku langsung memeluk kedua belah paha Tante Shinta yang
mulus, dan langsung menyambar vagina yang masih rapat itu dengan
lidahku.
Tante Shinta hanya menengok sejenak dan mengusap-usap kepalaku sambil
tersenyum. Kemudian wanita itu asyik lagi dengan permainannya. Aku
semakin bernafsu melumat vagina Tante Shinta yang kenyal itu. Ughh..
betul-betul nikmat. Sementara Tante Lisbeth yang sedari tadi berada di
dekatku mulai merayapi pahaku. Ahh.. lembut sekali kulitnya. Aku bisa
merasakannya di sekujur kakiku. Hingga akhirnya wanita keturunan Chinese
itu menggenggam batang penisku yang sudah sejak tadi tegang.
Dijilatinya buah pelirku. Hmm.. lidah Tante Lisbeth betul-betul lihay.
Ke bagian 3